Ternyata 483 Perguruan Tinggi Swasta Tidak Terakrediatasi di BAN-PT

TERNYATA, saat ini tidak kurang dari 483 Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan 60 Perguruan Tinggi Swasta (PTS) dinyatakan tidak terakreditasi di Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) Kemenristekdikti. Banyaknya perguruan tinggi yang belum terakreditasi itu tentunya memunculkan pertanyaan, apakah karena standar mutu yang diterapkan oleh BAN-PT terlalu tinggi ataukah mutu penyelenggaraan pendidikan di perguruan tinggi-perguruan tinggi di Indonesia itu demikian rendah?

Ternyata 483 Perguruan Tinggi Swasta Tidak Terakrediatasi di BAN-PT

Untuk menjawab hal itu, simak penuturuan Ketua BAN PT Kemenristek Dikti Prof. Dr. Mansyur Ramli dalam kesempatan menerima Legislatif di ruangannya yang sangat sederhana—untuk tidak mengatakan ruangan kerjanya sumpek dan sempit—di bilangan Jalan Fatmawati, Jakarta Selatan, pertengahan Januari lalu.

Apa kendalanya sampai-sampai ratusan PTN dan PTS belum terakreditasi, bahkan ribuan Program Studi (Prodi) juga belum terakreditasi?

Kendala yang pertama tentu anggaran karena anggaran yang disediakan kementerian itu terbatas. Berikutnya adalah kendala staf pendukung. Kemudian kendala lainnya adalah karena program study-nya saja yang langka sehingga agak sulit kita memberikan akreditasi. Tapi yang utama antrian panjang ini pertama karena anggaran.

Baca Dulu:

Kenapa tidak mengajukan anggaran tambahan lagi?

Ya kita tahu anggaran kita terbatas.

Berapa anggaran dari kementerian kalau boleh tahu?

Itu di Balitbang, ya sekitar 100 miliar. Di kita itu hitungannya (unit cost) per satu prodi 35 juta itu Average. Misalnya (untuk akreditasi) di Bandung, kemudian untuk aksesor-nya dari Jakarta maka tentu itu lebih mudah dan murah. Tapi kalau di Papua dan aksesor-nya dari Makassar kan itu jauh jadi lebih tinggi.

Apakah kalau perguruan tinggi atau prodi tidak terakreditasi bisa dinyatakan tutup?

Kami tidak punya kewenangan untuk menyatakan tutup atau berhenti. Kami hanya bisa menyatakan bahwa itu terakreditasi atau tidak terakreditasi. Jadi itu sudah cukup, dengan menyatakan bahwa itu tidak terakreditasi maka otomatis seharusnya (perguruan tinggi atau prodi) yang bersangkutan tutup.

Sekarang ini pemeringkatan akreditasi perguruan tinggi (PT) tidak lagi menggunakan A, B dan C tetapi diubah menjadi Unggul, Baik Sekali dan Baik, betulkah?

Ya sesuai dengan Permendikbud No 87 Tahun 2014 tentang Akreditasi Program Studi dan Perguruan Tinggi bahwa akreditasi itu tidak lagi menggunakan A, B dan C tetapi dengan kategori Unggul, Baik Sekali dan Baik. Tapi intinya sih sama saja bahwa yang Unggul itu A, yang Baik Sekali itu B dan Baik itu C.

Memang standar resminya harus begitu?

Ya sesuai dengan Permendikbud No 49 Tahun 2014 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi bahwa akreditasi itu harus sesuai dengan standar-standar nasional pendidikan tinggi. Jadi standar resminya memang seperti itu.

Apa standar yang menyatakan sebuah perguruan tinggi atau prodi itu unggul atau tidak?

Ada 7 standar yang ditetapkan, misalnya soal visi dan strategi penyelenggaraan pendidikan, kepemimpinan, sarana dan prasarana, SDM, lulusan atau alumni serta pengabdian masyarakat. Tentu indikator-indikator lain juga dinilai, misalnya rasio mahasiswa dengan jumlah dosen. Itu menjadi penilaian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *